Berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan oleh presiden AS ke-45, Donald Trump, Indonesia sudah tidak lagi menyandang gelar negara berkembang. Kini status Indonesia sebagai salah satu negara maju secara tidak langsung dituntut komitmennya secara nyata dalam menyelesaikan masalah-masalah global seperti krisis energi dan perubahan iklim. Oleh karena itu, pada pembukaan Presidensi G20 pada Desember 2021 lalu, Indonesia akan berfokus diantaranya pada transisi menuju energi berkelanjutan. 

Transisi energi merupakan transformasi sektor energi global dari sistem produksi dan konsumsi energi berbasis fosil ke sumber energi terbarukan. Salah satu upaya untuk mendorong transisi energi berkelanjutan, Indonesia akan berfokus pada pengembangan Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBT) yang bersumber dari tenaga surya, hidro, angin, panas bumi, biomassa dan energi laut. Pemerintah Indonesia menetapkan target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025 dan 31% pada 2050. Selain itu, Indonesia juga berkomitmen menurunkan emisi sebesar 29% pada 2030. Potensi EBT Indonesia yang  diperkirakan mencapai lebih dari 3.000 GW merupakan modal utama dan langkah awal menurunkan 1.526 juta ton emisi CO2 pada 2060. Berdasarkan Outlook Energi Indonesia 2021 yang diterbitkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), potensi dan kapasitas terpasang pembangkit energi terbarukan di Indonesia diantaranya panas bumi sebesar 2.131 MW kapasitas terpasang, hidro sebesar 4.621 MW, mini hidro 411 MW, energi surya 105 MW, energi angin 154 MW, dan bioenergi dengan kapasitas terpasang sebesar 42 MW. Selain itu, beberapa strategi yang dilakukan untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) Indonesia dengan melakukan retirement PLTU secara bertahap, pemanfaatan teknologi yang lebih efisien yaitu dengan mendorong penggunaan kendaraan dan kompor listrik, serta penerapan sistem smart grid untuk mengatasi variable renewable energy (VRE). Disisi lain, pemerintah juga memuat kebijakan baru melalui UU No.7 tahun 2021 mengenai pajak karbon, yaitu emisi karbon yang memberikan dampak negatif bagi lingkungan hidup dikenakan tarif pajak karbon paling rendah sebesar Rp3.000,- per kg CO2e. 

Grafik 1. Potensi dan Kapasitas Terpasang berdasarkan Outlook Energi Indonesia 2021 yang diterbitkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Institute for Essential Services Reform (IESR) melalui laporannya yaitu Indonesia Energy Transition Outlook 2022 menilai bahwa Indonesia harus mempercepat pembangunan listrik energi terbarukan pada 2021-2030 untuk mencapai target bauran 23%. Berdasarkan peta jalan transisi energi menuju karbon nol Indonesia 2021-2025, pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga energi baru terbarukan (PLT EBT) mencapai 10,6 GW dan implementasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 3,6 GW. Total kapasitas PLT EBT yang terpasang per September 2021 baru mencapai 10.827 MW atau hanya bertambah sekitar 400 MW. Sedangkan pemanfaatan energi surya yang didominasi oleh pembangunan PLTS atap hanya bertambah sekitar 14 MW. Indonesia perlu melakukan peningkatan sebesar 14 kali lipat kapasitas energi terbarukan untuk mencapai target bauran yang direncanakan. 

Selain Indonesia, negara-negara Uni Eropa sudah lebih dulu melakukan transformasi energi dan beralih menuju energi baru terbarukan. Transformasi energi ini mengakibatkan penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara di Uni Eropa mengalami penurunan 20% per 2020. 

  • Jerman, yang merupakan salah satu negara anggota Uni Eropa, mempercepat penggunaan sumber energi baru terbarukan sebesar 70% pada 2030.  Sejak tahun 2000 sampai 2015, Jerman telah meningkatkan pemasangan PLTS (solar photovoltaic) dan PLTA dari 6,2 GW menjadi 83,3 GW.
  • Selain Jerman, Denmark juga adalah negara yang memanfaatkan tenaga angin dan matahari tertinggi dengan menyumbang 61% kebutuhan listriknya pada 2020.
  • Kapasitas terpasang di negara-negara Islandia dan Turki menyumbang lebih dari 50% dari total kapasitas terpasang di Eropa. Untuk Islandia, kapasitas pembangkit rata-rata per pabrik adalah sekitar 83 MWe sedangkan untuk UE adalah sekitar 19 MWe.
  • Sumber energi terbarukan lainnya yang sudah dikembangkan di Uni Eropa adalah energi panas bumi. Pembangkit listrik tenaga panas bumi menggunakan sumber daya hidrotermal yang memiliki air (hidro) dan panas (termal). Pembangkit listrik tenaga panas bumi membutuhkan sumber daya hidrotermal suhu tinggi (300 °F hingga 700 °F) yang berasal dari sumur uap kering atau dari sumur air panas. Pemanfaatan sumber daya ini dilakukan dengan mengebor sumur ke bumi dan kemudian menyalurkan uap atau air panas ke permukaan. Air panas atau uap menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik. Beberapa sumur panas bumi memiliki kedalaman 2 mil. Pembangkit listrik tenaga panas bumi di Eropa merupakan fenomena yang relatif baru. Sebelum tahun 1990, hanya sejumlah kecil pembangkit listrik tenaga panas bumi yang beroperasi di Eropa (terutama di Italia dan Islandia). Saat ini, pembangkit listrik tenaga panas bumi perlahan mulai muncul hampir di seluruh Eropa. Pada akhir 2016, sebanyak 102 pembangkit listrik tenaga panas bumi telah beroperasi. Total kapasitas terpasang adalah 2,5 GWe, dimana 1 GWe terpasang di Uni Eropa.
  • Sumber energi terbarukan lainnya yaitu pembangkit listrik tenaga nuklir masih menjadi perdebatan di negara Uni Eropa. Terutama sejak bencana nuklir Fukushima Daiichi pada Maret 2011, peran penting energi nuklir di Uni Eropa dipertanyakan oleh banyak pemerintah.  Beberapa negara mendukung pemanfaatan energi nuklir sementara lainnya dengan tegas menghentikan semua reaktor nuklirnya. Sebagian besar pembangkit nuklir di Jerman telah ditutup secara permanen dan sisanya akan ditutup pada 2022 ini. Sementara, Perancis yang memperoleh sekitar 70% listriknya dari pembangkit nuklir tetap pro memanfaatkan energi nuklir didukung oleh beberapa negara EU lainnya seperti Polandia, Hongaria, Republik Ceko, Bulgaria, Slovakia dan Finlandia. Reaktor tenaga nuklir terbesar yang sedang dibangun di dunia pada 2021 terletak di Finlandia, Olkiluoto 3 dengan pembangkit listrik bruto yang diharapkan sebesar 1,72 gigawatt listrik.

Percepatan transisi energi juga terjadi di benua Amerika yaitu di Amerika Serikat dan Kanada.

  • Sejak 2019, tenaga angin telah menjadi pemasok listrik terbarukan terbesar dan menghasilkan 337,9 terawatt-jam listrik pada tahun 2020, yang menyumbang 8,4% dari total pembangkit listrik nasional dan 43,2% dari total pembangkit listrik terbarukan.
  • Pembangkit listrik energi terbarukan terbesar kedua adalah PLTA, yang menghasilkan sekitar 7,3% dari total listrik negara pada tahun 2020 serta 36,4% dari total pembangkit listrik terbarukan. Amerika Serikat adalah produsen pembangkit listrik tenaga air terbesar keempat di dunia setelah Cina, Kanada, dan Brasil.
  • Pembangkit listrik tenaga surya juga sangat berkembang di Amerika Serikat. Sekitar lebih dari 50 GW kapasitas PLTS terpasang menghasilkan sekitar 1,3% dari total pasokan listrik Amerika pada tahun 2017.

Grafik 2. Profil kapasitas pembangkit listrik nasional dan pembangkit terbarukan di Amerika per 2020

  • Sumber energi terbarukan lainnya yang sudah diterapkan di Amerika Serikat adalah energi panas bumi (geothermal). Energi panas bumi adalah sumber daya listrik terbarukan yang signifikan di Amerika Serikat bagian barat. Amerika Serikat memimpin dunia dalam jumlah pembangkit listrik panas bumi. Pada tahun 2020, ada pembangkit listrik tenaga panas bumi di tujuh negara bagian diantaranya California, Nevada, Utah, Hawaii, Oregon, Idaho, dan New Mexico, yang menghasilkan sekitar 17 miliar kilowatt hours (kWh), setara dengan 0,4% dari total pembangkit listrik skala utilitas AS.
  • Sebagai negara yang paling berpengaruh, Amerika serikat juga memilih tenaga nuklir sebagai sumber energi untuk menerangi wilayahnya. Amerika serikat dikenal sebagai negara penghasil tenaga nuklir terbesar di dunia, terhitung lebih dari 30% dari pembangkit listrik tenaga nuklir di seluruh dunia. Reaktor nuklirnya menghasilkan 843 miliar kWh pada 2019, sekitar 19% dari total output listrik. Menurut U.S Energy Information Administration (EIA), Amerika Serikat mulai menggunakan tenaga nuklir sebagai salah satu sumber pembangkit tenaga listriknya sejak 1958. Pada akhir Desember 2020, Amerika Serikat memiliki 94 reaktor nuklir komersial yang beroperasi di 56 pembangkit listrik tenaga nuklir di 28 negara bagian. Usia rata-rata reaktor nuklir ini adalah sekitar 39 tahun.
  • Kanada, salah satu negara yang terletak di Amerika Utara, telah memiliki 22 reaktor nuklir. Energi nuklir menghasilkan sekitar 15 persen listrik Kanada. Semua reaktor tenaga nuklir di Kanada disebut reaktor CANDU (Canadian Deuterium-Uranium). Reaktor air berat bertekanan ini menggunakan uranium alami sebagai bahan bakar dan air berat (deuterium oxide) sebagai pendingin dan moderator. Energi nuklir merupakan salah satu sumber energi yang mutakhir dan dapat melindungi kualitas udara dengan memproduksi listrik bebas karbon dalam jumlah besar. Akan tetapi, kebocoran limbah nuklir dapat mengakibatkan dampak yang merugikan manusia dan lingkungan. Maka dari itu, U.S. Nuclear Regulatory Commission (NRC) mengawasi dan mengatur semua tahap kehidupan setiap pembangkit listrik tenaga nuklir, mulai dari penilaian lingkungan yang diperlukan sebelum konstruksi pabrik, hingga penonaktifan fasilitas setelah operasi berakhir. EIA dalam the Annual Energy Outlook 2021 Reference memproyeksikan kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir yang baru akan ditambahkan pada 2021 dan 2022. 

Di Asia, seperti Cina, Jepang dan Korea merupakan negara-negara yang pesat dalam perkembangan transisi energinya.

  • Pertumbuhan ekonomi Cina yang kuat selama 40 tahun terakhir diimbangi juga dengan kuatnya konsumsi energi. Oleh karenanya, Cina telah menetapkan target ambisius dalam pengembangan sistem energi bersih dan efisien menuju 2035 dan 2050. Menurut analisis yang dilakukan Wang Zhongying dan Kaare Sandholt dalam penelitiannya, target untuk kapasitas terpasang pada tahun 2025 harus berupa tenaga surya minimum 600 GW, 421 GW Tenaga angin, tenaga air 385 GW, dan daya dari bioenergi 55 GW. Di sektor transportasi, Cina lebih banyak fokus pada pengembangan mobil listrik sebagai solusi jangka panjang untuk ketergantungan sektor transportasi terhadap minyak. Selain itu, untuk mengganti ketergantungan energi listrik berbasis minyak bumi menjadi energi bersih, Cina memiliki kemandirian dalam pembuatan dan desain teknologi reaktor nuklir. Reaktor nuklir canggih seperti Hualong One adalah teknologi utama yang dalam waktu dekat direncanakan akan diekspor. Pada pertengahan abad, reaktor neutron cepat dipandang sebagai teknologi utama, dengan kapasitas 1400 GW yang direncanakan pada tahun 2100. Pada COP26 tahun 2021, Cina telah mengumumkan rencana untuk membangun 150 reaktor sipil baru hingga 2035. Negara ini menempati urutan ketiga di dunia baik dalam total kapasitas tenaga nuklir yang terpasang dan listrik yang dihasilkan, terhitung sekitar sepersepuluh dari tenaga nuklir global yang dihasilkan. Tenaga nuklir berkontribusi 4,9% dari total produksi listrik China pada 2019, dengan 348,1 TWh.

Grafik 3. Target Kapasitas Terpasang (GW) pada 2025 di China berdasarkan analisis Wang Zhongying dan Kaare Sandholt

  • Sementara, Jepang, sebelum gempa bumi dan tsunami Tōhoku 2011, telah menghasilkan 30% tenaga listriknya dari reaktor nuklir dan berencana untuk meningkatkannya menjadi 40%. Energi nuklir adalah prioritas strategis nasional di Jepang. Pada Maret 2020, dari 54 reaktor nuklir di Jepang, ada 42 reaktor yang dapat dioperasikan tetapi hanya 9 reaktor di 5 pembangkit listrik yang benar-benar beroperasi. Sebanyak 24 reaktor dijadwalkan untuk dinonaktifkan atau sedang dalam proses dinonaktifkan. Pemerintah Jepang perlu memulihkan kepercayaan publik melalui inisiatif seperti mengurangi risiko kecelakaan melalui peningkatan keselamatan lebih lanjut dan penanganan masalah back end seperti menonaktifkan reaktor dan pengolahan dan pembuangan limbah. Disisi lain, untuk mencapai karbon netral pada 2050 dan target reduksi emisi CO2 di 2030 Jepang menganut sistem kebijakan dasar S+3Es (Safety + Energy Security + Economic Efficiency + Environment). Kebijakan utamanya adalah pengenalan energi terbarukan secara masif sebagai sumber energi utama, efisiensi energi dan penerapan energi nuklir untuk mencapai 46% reduksi emisi gas rumah kaca, serta fokus pada percepatan inovasi R&D seperti komersialisasi teknologi perovskite, memperluas penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar listrik pada automobil, dan pengembangan teknologi inovasi CCUS (daur ulang karbon).

Gambar 4. Pembangkit listrik tenaga nuklir di Jepang per Maret 2021 (sumber gambar: Japan’s Nuclear Power Plants in 2021 | Nippon.com)

  • Negara pesat lainnya seperti Korea yang juga termasuk kedalam peringkat 7 terbesar dunia sebagai negara penyumbang emisi CO2, bekerja keras dalam transisi energi untuk mitigasi krisis iklim. Komitmen Korea pada transisi energi berfokus pada efisiensi energi khususnya kebijakannya terhadap sektor transportasi dan energi nuklir. Pada sektor transportasi, Korea memiliki standar ekonomi bahan bakar yang mapan untuk kendaraan seperti mobil, dan bahkan International Energy agency (IEA) memuji rencana pemerintahnya untuk memperkenalkan standar ekonomi bahan bakar untuk kendaraan barang berat, yang akan menempatkan Korea di garis depan upaya global. Korea telah menetapkan tujuan ambisius untuk peluncuran mobil listrik dan juga untuk memantapkan dirinya sebagai eksportir utama kendaraan hidrogen dan sel bahan bakar pada tahun 2040. Keseriusan Korea terhadap pemanfaatan energi nuklirnya adalah sangat aktifnya projek-projek penelitian nuklir yang melibatkan berbagai reaktor canggih, termasuk reaktor modular kecil, reaktor transmutasi cepat / nuklir logam cair, dan desain pembangkit hidrogen suhu tinggi. Produksi bahan bakar dan teknologi penanganan limbah juga telah dikembangkan secara lokal. Korea Selatan juga merupakan anggota dari proyek penelitian fusi nuklir ITER Bersama Uni Eropa, Cina, Amerika Serikat, Jepang, Rusia, dan India. Korea Selatan hanya memiliki empat lokasi stasiun pembangkit aktif, tetapi setiap situs menampung empat unit atau lebih, dan tiga lokasi memiliki lebih banyak reaktor yang dibangun. Dengan demikian produksi tenaga nuklir Korea sedikit lebih terpusat daripada kebanyakan negara tenaga nuklir. Pembangunan beberapa unit di setiap situs memungkinkan pemeliharaan yang lebih efisien dan biaya yang lebih rendah, tetapi mengurangi efisiensi jaringan. Empat dari enam reaktor Wolsong adalah reaktor air berat bertekanan CANDU (PHWR) yang dirancang Kanada. Energi nuklir di Korea menyediakan 29% listrik negara. Total kapasitas pembangkit listrik pembangkit listrik tenaga nuklir Korea Selatan adalah 20,5 GWe dari 23 reaktor, setara dengan 22% dari total kapasitas pembangkit listrik Korea Selatan. Korea Selatan berusaha untuk mengekspor teknologi nuklirnya, dengan target mengekspor 80 reaktor nuklir pada tahun 2030. Pada 2010 lalu, perusahaan Korea Selatan telah mencapai kesepakatan untuk membangun reaktor penelitian di Yordania, dan empat reaktor APR-1400 di Uni Emirat Arab.

Berdasarkan langkah beberapa negara seperti Uni Eropa, Amerika, Cina, Jepang dan Korea dalam transisi energinya, bagaimanakah komitmen Indonesia dalam menerapkan strateginya untuk menuju karbon nol? Tentunya perlu adanya kerjasama yang solid khususnya antara pemerintah sebagai pemangku kebijakan dan sektor swasta juga masyarakat untuk bersama-sama menuju energi bersih dan dekarbonisasi. 

Referensi: 

Energy Transitions in Europe (energyindustryreview.com)

Geothermal | U.S. Geological Survey (usgs.gov)

IESR nilai arah transisi energi di Indonesia semakin jelas – ANTARA News

Indonesia.go.id – Mendorong Transisi Energi Berkelanjutan pada Presidensi G20

Indonesia-Energy-Transition-Outlook-2022-IESR-Digital-Version-.pdf ISSN 2527 3000. (n.d.).

Japan 2020 (iaea.org)

Kementerian ESDM RI – Berita Unit – Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan – Pemerintah Mendorong Transisi Energi Melalui Energi Baru Terbarukan dan Efisiensi Energi

Korea is putting innovation and technology at the centre of its clean energy transition, IEA policy review finds – News – IEA

Nuclear power in Europe – statistics & facts | Statista

Nuclear power in South Korea – Wikipedia

Nuclear power plants – Canadian Nuclear Safety Commission (cnsc-ccsn.gc.ca)

Pengkajian, P., Proses, I., Energi, D., Pengkajian, B., Teknologi, P., Nasional, P., Katalog, R. :, & Terbitan, D. (n.d.). OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2021 Perspektif Teknologi Energi Indonesia: Tenaga Surya untuk Penyediaan Energi Charging Station.

power-guide-2018.pdf (pwc.com) 

PowerPoint プレゼンテーション (eria.org) 

U.S. nuclear industry – U.S. Energy Information Administration (EIA)

Use of geothermal energy – U.S. Energy Information Administration (EIA)

Vonsée, B., Crijns-Graus, W., & Liu, W. (2019). Energy technology dependence – A value chain analysis of geothermal power in the EU. Energy, 178, 419–435. https://doi.org/10.1016/j.energy.2019.04.043 

Zhongying, W., & Sandholt, K. (2019). Thoughts on China’s energy transition outlook. Energy Transitions, 3(1–2), 59–72. https://doi.org/10.1007/s41825-019-00014-w 

LATEST POSTS
FOLLOW AND SUBSCRIBE

Potensi dan Strategi Transisi Energi Indonesia di Dunia: Mampukah Indonesia Bersaing?

oleh Rika Marantika time to read: 9 min
0